Ketika Cinta dan Dakwah Berpadu

Alhamdulillah wasy syukru lillah, itulah ungkapan yang patut di panjatkan selalu, karena dengan kuasa dan pertolongan Allah SWT semata, rencana yang kami canangkan dapat terlaksana dengan baik dan lancar, yaitu kegiatan roadshow “Ketika Cinta dan Dakwah Berpadu”. Acara ini adalah sebuah gawean spesial di bulan suci Ramadhan, antara “cintanya” kang Abik sapaan akrab Habiburrahman Elshirazy dengan “dakwahnya” Dr. Amir Faishol Fath selaku Pimpinan Lembaga Kajian Dakwatuna.

Kalau bukan semata sekenario dari Allah SWT semata, maka perhelatan ini tidak mungkin akan berlangsung, sebab waktu pelaksanaan kegiatannya sangatlah mepet dan padat, yang boleh jadi secara operasional panitia belum bisa diprediksi. Bayangkan roadshow ini dimulai dari waktu shalat zhuhur, ashar, buka bersama dan shalat tarawih di tempat yang masing-masing berbeda.

Untuk kang Abik sendiri, boleh jadi kegiatan ini sangat padat, menyebabkan fisik dan pikiran beliau terforsir.

Kang Abik tiba di Jakarta pada hari Rabu, 17 September 2008 pukul 08.30 WIB di bandara. Beliau istirahat sejenak selama satu jam, melanjutkan bersilaturahim dengan penerbit buku-buku cintanya beliau di bilangan Buncit Jakarta Selatan. Lalu beliau meneruskan ke Elnusa, Jaksel, untuk mengawali kegiatan roadshow.

Dari Elnusa beliau langsung menuju kantor Telkomsel, di kawasan Gatot Subroto, Jaksel untuk shalat Ashar, selama satu jam beliau berdialog dengan para professional dan masyarakat perkantoran di Jakarta.

Subhanallah, kang Abik harus dipindahkan dari mobil panitia ke sepeda motor yang sudah disiapkan karena kondisi jalan yang macet, untuk meluncur ke Kantor Menpora di kawasan Senayan, dalam acara buka puasa bersama. Dalam acara ini juga dibarengi penyerahan bingkisan dan bantuan kepada orang-orang berprestasi, salah satunya juara catur dunia kategori umur antara 10-12 tahun, ia putri terbaik Indonesia, luar biasa.

Ba’da shalat Isya’ berjama’ah, kami meluncur menuju kawasan Kebayoran Baru, Masjid Agung Al Azhar. Lalu ba’da shalat tarawih, dialog interaktif dilangsungkan. Ternyata waktu yang disetting hanya satu setengah jam, nambah menjadi dua setengah jam, tak terasa, selesai pukul 23.00.

Dari rangkaian roadshow ini, kang Abik lebih menekankan bahwa kiprah yang sekarang beliau jalani adalah merupakan usaha seorang muslim untuk menghadirkan seni dan budaya yang membangun, menyempurnakan perilaku, mewarnai seni dan budaya negeri ini. Dan bahwa seni dalam segala bentuknya tidaklah bertentangan dengan Islam. Beliau mencontohkan, seni sastra, Rasulullah SAW memerintahkan sahabat yang punya keahlian dalam bersyair untuk menjawab tuduhan dan ejekan para penyair Arab kepada beliau ketika itu. Beliau juga, misalkan, memberi kesempatan istrinya Aisyah untuk melongok lewat jendela rumahnya hanya untuk melihat acara permainan perang-perangan yang dilakukan oleh orang-orang Habasyah muslim. Sampai Aisyah ditanya, apakah kamu sudah puas?

Islam datang adalah untuk menyempurnakan akhlak dan perilaku manusia. Sehingga bidang-bidang kehidupan yang ada ini juga hendaknya mengacu kesana, tak terkecuali dengan seni dan budaya.

Kang Abik hadir di tengah-tengah hiruk pikuk seni dan budaya dengan membawa angin baru, angin kesegaran dan kesejukan Islam, nilai kebaikan dan kemanusiaan. Beliau bisa menghadirkan wajah seni Islam yang santun, menebar cinta, membangun, mencerahkan dan memuaskan spiritual setiap pembacanya. Kang Abik punya prinsip yang tidak dimiliki oleh yang lainnya, yang lebih cenderung bahwa seni untuk seni. Beliau mengarahkan arah seni dengan caranya, bahwa seni menjadi seperti sebilah pisau, seni bisa untuk membunuh sisi kemanusiaan dan kehancuran moral, namun seni juga bisa sangat efektif untuk membangun spiritual dan kemanusiaan.

Banyak pertanyaan dari para audiens, seputar novel-novel beliau. Salah satunya adalah pertanyaan terkait novel Ayat-Ayat Cinta; apakah Fahri lakon utama novel itu adalah penulisnya sendiri, alias kang Abik? Dengan bercanda ia menjawab, kalau Fahri itu naik metro, ya itu Habiburrahman, kalau Fahri itu lagi mimun Laimun, nah  itu Habiburrahman, tapi kalau Fahri yang jantungnya berdegup kencang ketika ta’aruf dengan Asiyah di rumah syaikh Ustman, ketika Aisyah membuka cadarnya, yang itu bukan Habiburrahman. Karena yang dialami Habiburrahman jauh lebih dahsyat dari itu, candanya.

Terkait kritikan bahwa sosok Fahri itu hanya ada dalam mimpi dan khayalan belaka, beliau menjawab, bahwa padanan sosok Fahri di Indonesia itu sangatlah banyak, seorang yang pintar, cerdas, menguasai banyak bahasa dan sangat disegani. Ia mencontohkan KH. Agus Salim, Mohammad Hatta, M. Natsir adalah figur-figur yang cerdas, melegenda dan mereka sangat menguasai banyak bahasa, Bahasa Arab, Inggris, Belanda, Perancis, dan Jerman. Kalau Fahri hanya menguasai bahasa Arab, Inggris dan Jerman, itu masih belum seberapa dibanding padanan yang lebih hebat. Beliau ingin menekankan bahwa bangsa ini memiliki banyak orang-orang pintar, berprestasi dan sangat berpengaruh dalam percaturan nasional dan global.

Lembaga Kajian Dakwatuna mengucapkan banyak terimakasih kepada para sponsor, donator, mitra dan seluruh pihak yang mensukseskan kegiatan ini, jazakumullah khairan katsira. Sekaligus kami juga mohon dibukakan pintu ma’af yang sebesar-besarnya atas segala khilaf, kekurangan dalam kegiatan ini. Kita nantikan acara roadshow pada hari ini, Kamis, 18 September di kampus Uhamka Jakarta Timur insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: